Kamis, 04 Juni 2015

cerpen remaja

Blue Sky dan Blue Bird
Kamu kemana? Kenapa kamu begitu membuat diriku bergantung kepadamu.
Seorang gadis muda, berpenampilan bersahaja, kulit putih langsat bertahi lalat di pipi, dengan tinggi 165cm. Sekolah tempat belajarnya megah nan elite. Kehidupan siswa-siswinya bergelimangan harta, tapi dia hanyalah seorang gadis perantau. Beruntungnya dia mempunyai paman yang mampu menyekolahkannya. Mencari teman sesuai dengan keadaannya begitu sulit. Setiap waktu dia berdiam diri, tanpa seorang yang menemani. Gadis sederhana itu ialah diri ini.
“Hei Dewi, kenapa kamu melamun saja?” seorang perempuan dengan suara lembut terdengar semu.
“Ah, tidak Buk. Dewi hanya merasa tidak enak badan” aku terkejut dan bingung sendiri.
Lamunanku terhanyutkan oleh sentuhan tangan halus Bu Ratna di pundakku. Aku seorang yang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hidupku mengalir bagai air sungai, tidak mempersalahkan batu-batu kerikil yang menghantam. Bahagia bisa aku dapatkan walau aku hanya seorang diri. Ketika Ibu pergi untuk selamanya, aku merasa menjadi anak yang paling malang. Namun Ayah tidak membiarkanku layaknya belalang kehilangan kaki. Ayah selalu berada disisiku dan memberiku beribu kasih hingga aku tumbuh menjadi anak yang dewasa. Bahagia itu sederhana jika mampu mengerti dan berbagi. Kata yang selalu aku tanam dalam diri ini, kata dari seseorang yang membuatku mengerti dunia dan hidup. Langkah kakiku, berjalan menyisiri sekolah sendirian.
Sekarang tiba waktunya menjalankan ujian tengah semester. Tempatku ujian dikelas yang tidak pernah aku kenal orang-orangnya. Hari pertama berjalan lancar tak ada masalah, hingga tiba pada hari terakhir. Aku merasa ada seorang yang memerhatikanku. Ketika aku hendak meniggalkan kelas, sebuah burung origami biru dengan nama blue sky. Semenjak itu aku merasa tak sendiri lagi melangkah.
Siapa si blue sky setiap aku menatap ke atas, memandang birunya langit. Akankah hati orang itu secerah langit, hingga ingin mengenalku. Detik demi detik waktu berlalu, setiapku buka locker, kutemukan blue sky ke dua, tiga, empat, sampai pada blue sky ke-30, siapakah dia? Akupun menulis catatan dalam locker itu.
“Bolehkah aku menemui dirimu blue sky, biarkan aku mengenalmu. Jangan biarkan ini berlalu begitu saja, mungkin saja angin besok telah menghilang, mungkin saja besok matahari tidak memberi kehangatannya lagi mungkin saja nanti api akan menghanguskan semua. Mengenalmu akan membuatku lebih bahagia dari sekedar menatap langit yang indah.”
Blue sky, mengapa kamu tidak ada jawaban. Aku begitu penasaran,  siapakah kamu?  Puluhan origami memenuhi kamarku, aku menatap langit pagi dan malam dalam bingkai origami burung ini. Setiap hari aku menemukan blue sky itu hingga hari ini ialah origami yang ke-99. Aku tuliskan lagi catatan yang sama untuk kesekian kalinya. Tetapi sama saja tidak ada tanggapan, hanya ada origami burung indah bertengger dalam lockerku. Sekarang adalah hari ujian semester final test teringat aku akan origami burung yang aku temukan dikolong meja sebelum meninggalkan ruangan, tetapi hari ini tidak ada burung origami.
Aku merasa ada yang kurang ada yang tidak biasa, apa origami ini menjadi origami yang terakhir? Ah blue sky. Kamu memang seperti langit tidak dapat di tebak. Kapan akan cerah kapan akan mendung kapan akan bertaburan bintang dan kapan akan gelap. Ketika langkah kaki menuju taman, lalu mengambil tempat untuk duduk. Ku lihat sebuah origami tergantung di pohon. Aku hampiri dan kuraih burung origami itu.
Hey, my blue bird temui aku, langkahkan kakiku 99 langkah dan pada langkah ke 100 tutuplah matamu, bawalah aku melangkah bersamamu.
Hati kecilku pun berkata untuk menurutinya. Kakiku melangkah dengan pasti.  Hingga aku tiba pada langkah ke-100 tepat di dekat danau, aku lalu menutup mata dan aku rasakan kehadiran seseorang dengan aroma parfum violet khas lelaki. Dengan tiba-tiba aku merasakan getaran dalam tubuh ini, hati berguncang tak terkendali, hingga mata ini tak sanggup untuk terbuka.
“Hei, buka matamu. Aku sudah ada didepanmu.”
Aku pun perlahan membuka mata ini, dan aku melihat seorang lelaki jangkung, hitam manis dengan senyum menampakkan  gigi yang berjejer rata. Senyum canggung membawa ku te tempat yang telah ia sediakan. Seketika ku menjadi mati rasa, dengan bernafas terengah-engah. Kicau burung memecah suasana yang kaku mebisu
“Burung saja bersuara? Mengapa kamu tidak. Ini origami ke-100 untuk kamu.”
“I..iya makasih. Hee blue sky. Mengapa Blue sky dan blue bird? Kamu buat aku bingung.
“Karena kamu bagaikan langit, dan suaramu seindah burung.”
“Kamu siapa?” Tatapanku tak dapat beralih darinya.
“Aku Lastra, Dewi.”
Semenjak itu kami semakin dekat dan semakin mengenal, bagaikan sepasang burung dara yang menjalin kasih. Setiap waktu aku kini bersamanya, kami terlihat bagaikan sepasang kekasih, sahabat, teman, saudara bahkan kakak dan adik. Entah apalah, aku merasa sangat nyaman bersamanya. Bergurau bercanda ria bersama disela-sela istirahat pembelajaran menjadi suatu hal yang aneh untuk siswa-siswa disini. Aku yang biasa sendiri kini ada yang menemani.
Mataku menatap ke rentetan burung-burung origami itu, blue sky. Tinggal satu semester lagi aku menempuh pendidikan disekolah nan elite ini. Aku merasakan ini, dua rasa yang berkecamuk antara sedih dan senang. Tak terasa telah 2 tahun lebih kami bersama.
Seketika aku terbayang kata darinya, mengapa ada rasa yang aneh ini. Aku menjadi tak terarah tanpa dia disisiku. Mungkihkan Lastra menjadi cinta pertamaku? Hidupku terasa tak berarti sekarang, aku tak bisa lepas darinya, sehari tak bertemu membuat gairah hidupku mati.
“Dewi.”
“Aku tau kamu siapa, tidak usah menutup mataku seperti ini, Lastra.”
“Hehe. Dewi ini untukmu.”
“Lastra, ini bagus sekali. Kalung dengan liontin burung berwarna perak.”
“Pakailah dan selalu ingat aku, aku juga memakainya. Ini liat”
“Kalung kita sama, makasi Lastra.”
“Iya Dewi, jadikan ini sebagai kenang-kenangan ya.”
“Maksudmu apa Lastra, Lastra  kamu kemana? Lastra.. Lastra”
Aku termenung meratapi jejak kaki tak berbalas dari Lastra yang entah melangkah kemana. Bibir, mata dan tubuh ini terasa kaku tak kuasa untuk melawan. Bergerak meraihnya dan memeluknya. Terasa nafasku melayang melihat bayangnya perlahan menghilang tanpa bekas. Kemana kamu lastra? Lastra.
“Dewi, dewi . . “ sentuhan hangat dari Bibi yang berusaha membangunkan diri ini.
Aku mendengar suara semu membangunkan diri ini. Mimpi buruk itu menghantarkan diri meratapi matahari pagi. Ah aku terasa tak ada tenaga, mimpi ini isyarat apa? Aku tidak ingin Lastra pergi.
 Semester akhir kini di genggaman tanganku. Aku melalui dengan begitu sulit, bayang-bayang tentang Lastra menggentayangi pikiranku.
Taman pancuran tempat kami bertemu pertama kali menjadi persinggahan raga ini ketika merasa suntuk, jenuh dan merindunya. Kupejamkan mata, ku hirup segarnya udara, merasakan terpaan angin yang halus mendekapku. Namun dekapannya terasa nyata, kehangatannya begitu terasa membuat aku enggan untuk membuka mata. Bisik suara tak asing terngiang ditelingaku, nafasnya begitu membuatku lumpuh dan terhanyut.
“Aku sayang kamu Dewi, biarkanlah aku merasakan hangatnya tubuhmu, meresapi aroma tubuhmu, menyentuh lembutnya rambutmu.”
Aku tak mampu berkata apa-apa tubuhku terasa menyatu dengannya. Nafasku mengalir tenang lebih tenang dari air di taman. Aku merasakan aliran darahnya, merasakan genggamannya, dan sentuhannya yang begitu memanjakanku. Hari itu berlalu bisu bagaikan langit yang tak pernah bersuara. Kau selalu memberikanku keistimewaan. Tindakanmu, perilakumu terhadapku, membuatku terlena dan memujamu. Hingga matahari tergantikan bulan dan taburan bintang.  Kami berjalan melangkah memilih jalan masing-masing.
Kenangan tentang dirimu masih tersimpan bersama dengan origami ini. Blue sky kembalilah, aku tiada artinya tanpamu. Kamu kemana blue sky, mengapa kamu selalu membayang-bayangi hidupmu. Disetiap malam aku tertidur bermimpi tentang kamu. Sejengkal pun tak terlewatkan.Sudah 5 tahun berlalu, hingga detik ini. Waktu dimana aku duduk termenung mengharapkan kamu ada disini. Blue bird ingin menyentuh dan menggapai langit namun tak mampu, mengapa blue sky tak membiarkan blue bird ini sekejap saja mampu berada disana. Terperangkap aku dengan rasa yang entah harus bagaimana, tak ada satu orang pun yang mampu menjadi seperti kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar