Blue Sky dan Blue Bird
Kamu
kemana? Kenapa kamu begitu membuat diriku bergantung kepadamu.
Seorang gadis
muda, berpenampilan bersahaja, kulit putih langsat bertahi lalat di pipi,
dengan tinggi 165cm. Sekolah tempat belajarnya megah nan elite. Kehidupan siswa-siswinya bergelimangan harta, tapi dia hanyalah
seorang gadis perantau. Beruntungnya dia mempunyai paman yang mampu
menyekolahkannya. Mencari teman sesuai dengan keadaannya begitu sulit. Setiap
waktu dia berdiam diri, tanpa seorang yang menemani. Gadis sederhana itu ialah
diri ini.
“Hei Dewi,
kenapa kamu melamun saja?” seorang perempuan dengan suara lembut terdengar
semu.
“Ah, tidak Buk.
Dewi hanya merasa tidak enak badan” aku terkejut dan bingung sendiri.
Lamunanku
terhanyutkan oleh sentuhan tangan halus Bu Ratna di pundakku. Aku seorang yang
biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hidupku mengalir bagai air sungai, tidak
mempersalahkan batu-batu kerikil yang menghantam. Bahagia bisa aku dapatkan
walau aku hanya seorang diri. Ketika Ibu pergi untuk selamanya, aku merasa
menjadi anak yang paling malang. Namun Ayah tidak membiarkanku layaknya
belalang kehilangan kaki. Ayah selalu berada disisiku dan memberiku beribu kasih
hingga aku tumbuh menjadi anak yang dewasa. Bahagia itu sederhana jika mampu
mengerti dan berbagi. Kata yang selalu aku tanam dalam diri ini, kata dari
seseorang yang membuatku mengerti dunia dan hidup. Langkah kakiku, berjalan
menyisiri sekolah sendirian.
Sekarang tiba
waktunya menjalankan ujian tengah semester. Tempatku ujian dikelas yang tidak
pernah aku kenal orang-orangnya. Hari pertama berjalan lancar tak ada masalah,
hingga tiba pada hari terakhir. Aku merasa ada seorang yang memerhatikanku.
Ketika aku hendak meniggalkan kelas, sebuah burung origami biru dengan nama blue sky. Semenjak itu aku merasa tak
sendiri lagi melangkah.
Siapa si blue sky setiap aku menatap ke atas,
memandang birunya langit. Akankah hati orang itu secerah langit, hingga ingin
mengenalku. Detik demi detik waktu berlalu, setiapku buka locker, kutemukan blue sky ke dua, tiga, empat, sampai
pada blue sky ke-30, siapakah dia?
Akupun menulis catatan dalam locker itu.
“Bolehkah
aku menemui dirimu blue sky, biarkan
aku mengenalmu. Jangan biarkan ini berlalu begitu saja, mungkin saja angin besok
telah menghilang, mungkin saja besok matahari tidak memberi kehangatannya lagi
mungkin saja nanti api akan menghanguskan semua. Mengenalmu akan membuatku lebih
bahagia dari sekedar menatap langit yang indah.”
Blue sky,
mengapa kamu tidak ada jawaban. Aku begitu penasaran, siapakah kamu? Puluhan origami memenuhi kamarku, aku menatap
langit pagi dan malam dalam bingkai origami burung ini. Setiap hari aku
menemukan blue sky itu hingga hari
ini ialah origami yang ke-99. Aku tuliskan lagi catatan yang sama untuk
kesekian kalinya. Tetapi sama saja tidak ada tanggapan, hanya ada origami
burung indah bertengger dalam lockerku. Sekarang adalah hari ujian semester final test teringat aku akan origami
burung yang aku temukan dikolong meja sebelum meninggalkan ruangan, tetapi hari
ini tidak ada burung origami.
Aku merasa ada
yang kurang ada yang tidak biasa, apa origami ini menjadi origami yang
terakhir? Ah blue sky. Kamu memang
seperti langit tidak dapat di tebak. Kapan akan cerah kapan akan mendung kapan
akan bertaburan bintang dan kapan akan gelap. Ketika langkah kaki menuju taman,
lalu mengambil tempat untuk duduk. Ku lihat sebuah origami tergantung di pohon.
Aku hampiri dan kuraih burung origami itu.
Hey,
my blue bird temui aku, langkahkan kakiku 99 langkah dan pada langkah ke 100
tutuplah matamu, bawalah aku melangkah bersamamu.
Hati kecilku pun
berkata untuk menurutinya. Kakiku melangkah dengan pasti. Hingga aku tiba pada langkah ke-100 tepat di
dekat danau, aku lalu menutup mata dan aku rasakan kehadiran seseorang dengan
aroma parfum violet khas lelaki. Dengan tiba-tiba aku merasakan getaran dalam
tubuh ini, hati berguncang tak terkendali, hingga mata ini tak sanggup untuk
terbuka.
“Hei, buka
matamu. Aku sudah ada didepanmu.”
Aku pun perlahan
membuka mata ini, dan aku melihat seorang lelaki jangkung, hitam manis dengan
senyum menampakkan gigi yang berjejer
rata. Senyum canggung membawa ku te tempat yang telah ia sediakan. Seketika ku
menjadi mati rasa, dengan bernafas terengah-engah. Kicau burung memecah suasana
yang kaku mebisu
“Burung saja bersuara? Mengapa kamu tidak. Ini
origami ke-100 untuk kamu.”
“I..iya makasih.
Hee blue sky. Mengapa Blue sky dan blue bird? Kamu buat aku bingung.”
“Karena kamu
bagaikan langit, dan suaramu seindah burung.”
“Kamu siapa?”
Tatapanku tak dapat beralih darinya.
“Aku Lastra,
Dewi.”
Semenjak itu
kami semakin dekat dan semakin mengenal, bagaikan sepasang burung dara yang
menjalin kasih. Setiap waktu aku kini bersamanya, kami terlihat bagaikan
sepasang kekasih, sahabat, teman, saudara bahkan kakak dan adik. Entah apalah,
aku merasa sangat nyaman bersamanya. Bergurau bercanda ria bersama disela-sela
istirahat pembelajaran menjadi suatu hal yang aneh untuk siswa-siswa disini.
Aku yang biasa sendiri kini ada yang menemani.
Mataku menatap
ke rentetan burung-burung origami itu, blue
sky. Tinggal satu semester lagi aku menempuh pendidikan disekolah nan elite ini. Aku merasakan ini, dua rasa
yang berkecamuk antara sedih dan senang. Tak terasa telah 2 tahun lebih kami
bersama.
Seketika aku
terbayang kata darinya, mengapa ada rasa yang aneh ini. Aku menjadi tak terarah
tanpa dia disisiku. Mungkihkan Lastra menjadi cinta pertamaku? Hidupku terasa
tak berarti sekarang, aku tak bisa lepas darinya, sehari tak bertemu membuat
gairah hidupku mati.
“Dewi.”
“Aku tau kamu
siapa, tidak usah menutup mataku seperti ini, Lastra.”
“Hehe. Dewi ini
untukmu.”
“Lastra, ini
bagus sekali. Kalung dengan liontin burung berwarna perak.”
“Pakailah dan
selalu ingat aku, aku juga memakainya. Ini liat”
“Kalung kita
sama, makasi Lastra.”
“Iya Dewi,
jadikan ini sebagai kenang-kenangan ya.”
“Maksudmu apa
Lastra, Lastra kamu kemana? Lastra..
Lastra”
Aku termenung
meratapi jejak kaki tak berbalas dari Lastra yang entah melangkah kemana.
Bibir, mata dan tubuh ini terasa kaku tak kuasa untuk melawan. Bergerak
meraihnya dan memeluknya. Terasa nafasku melayang melihat bayangnya perlahan
menghilang tanpa bekas. Kemana kamu lastra? Lastra.
“Dewi, dewi . .
“ sentuhan hangat dari Bibi yang berusaha membangunkan diri ini.
Aku mendengar
suara semu membangunkan diri ini. Mimpi buruk itu menghantarkan diri meratapi
matahari pagi. Ah aku terasa tak ada tenaga, mimpi ini isyarat apa? Aku tidak
ingin Lastra pergi.
Semester akhir kini di genggaman tanganku. Aku
melalui dengan begitu sulit, bayang-bayang tentang Lastra menggentayangi
pikiranku.
Taman pancuran
tempat kami bertemu pertama kali menjadi persinggahan raga ini ketika merasa
suntuk, jenuh dan merindunya. Kupejamkan mata, ku hirup segarnya udara,
merasakan terpaan angin yang halus mendekapku. Namun dekapannya terasa nyata,
kehangatannya begitu terasa membuat aku enggan untuk membuka mata. Bisik suara
tak asing terngiang ditelingaku, nafasnya begitu membuatku lumpuh dan
terhanyut.
“Aku sayang kamu Dewi, biarkanlah aku merasakan
hangatnya tubuhmu, meresapi aroma tubuhmu, menyentuh lembutnya rambutmu.”
Aku tak mampu
berkata apa-apa tubuhku terasa menyatu dengannya. Nafasku mengalir tenang lebih
tenang dari air di taman. Aku merasakan aliran darahnya, merasakan
genggamannya, dan sentuhannya yang begitu memanjakanku. Hari itu berlalu bisu
bagaikan langit yang tak pernah bersuara. Kau selalu memberikanku keistimewaan.
Tindakanmu, perilakumu terhadapku, membuatku terlena dan memujamu. Hingga
matahari tergantikan bulan dan taburan bintang.
Kami berjalan melangkah memilih jalan masing-masing.
Kenangan tentang
dirimu masih tersimpan bersama dengan origami ini. Blue sky kembalilah, aku tiada artinya tanpamu. Kamu kemana blue
sky, mengapa kamu selalu membayang-bayangi hidupmu. Disetiap malam aku tertidur
bermimpi tentang kamu. Sejengkal pun tak terlewatkan.Sudah 5 tahun berlalu,
hingga detik ini. Waktu dimana aku duduk termenung mengharapkan kamu ada
disini. Blue bird ingin menyentuh dan menggapai langit namun tak mampu, mengapa
blue sky tak membiarkan blue bird ini sekejap saja mampu berada
disana. Terperangkap aku dengan rasa yang entah harus bagaimana, tak ada satu
orang pun yang mampu menjadi seperti kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar