Kamu begitu istimewa, keistimewanmu
adalah kamu, tapi siapakah kamu? Aku tak tahu siapa kamu. Aku berdiam diri
mengandaikan segenap angan-angan dalam hidup yang tak mungkin namun bisa
menjadi mungkin. Tahukah kamu, berbagai huruf dirangkai menjadi kata-kata. Kata
yang selalu mengiringi jalan hidupku. Lewat kata-kata aku ungkapkan rasa dalam
diri ini. Lewat kata-kata aku ukirkan kalimat indah yang saling berkaitan.
Lewat kata-kata aku ungkapkan yang tak mampu diungkapkan oleh bibir kepadamu
atau mereka. Harmoni nada, seharmoni rangkaian kata-kata. Semua huruf, semua
kata, semua kalimat memiliki roh dan makna sendiri-sendiri.
Menulis dalam hidupku berarti mewakili
jiwa dalam raga yang tak ada istimewanya. Ketika aku tak mampu lagi menahan
kepahitan hidup, kepadamulah aku berlari, kepadamulah aku ungkapkan,
kepadamulah aku curahkan, dan kepadamulah aku percaya. Percaya bahwa kamu akan
menyimpannya, kamu akan menjaganya dan mendengarkan aku tanpa coba untuk berpaling.
Itulah kamu, kamu yang tak berwujud seperti boneka, kalung atau apalah itu yang
dimiliki hampir semua orang. Kamu yang tak tersentuh namun mampu menyentu., Ketika
harmoni kata-kata ini dibaca akan membuat orang tertawa, membuat orang heran,
marah, bingung bahkan menangis. Puisi, lirik lagu, drama, maupun cerita akan
menarik jika roh dari kata-kata yang di ukir mampu menjelma menjadi sebuah karya,
karya yang diungkapkan oleh orang yang menyampaikan sisi lain darinya. Seperti
aku, saat ini.
Sadarkah mereka? Tahukah mereka? Riwayat
hidupnya terkenang melalui tulisan-tulisan tangannya yang tak sengaja. Melalui
ungkapan luapan emosi, mereka menulismu di media sosial, mereka tuliskan
kata-kata indah menunjukkan kasih sayang. Melalui kata-kata mereka
mengungkapkan depresi diri. Kamu tahu harus bagaimana, kamu mampu menjadi wadah
untuk aku menggambarkan suasana diriku. Kamu mampu memberiku tempat untuk
menggoreskan jeritan dalam hati ini. Hati yang tak mampu di dengar oleh orang
lain. Hati ini berbicara melalui kamu yang diketikkan oleh tangan yang bertemu
dengan beragam huruf.
Kini aku mulai paham akan
keistimewaanmu. Aku mulai menyadari setiap rangkaian kata-kata dibangun oleh
roh dari orang yang menuliskan dirimu. Keistimewaanmu bergantung pada siapa
yang menulismu, bergantung pada bagaimana dia memahamimu, bergantung pada dia
yang menyatukanmu. Bergantung pada dia yang menjadikan dirimu sebagai dirinya
dalam ribuan huruf itu.
Siapakah kamu? Kamu adalah apa yang kini
aku tuliskan. Kamu adalah bagian dari diriku ini, kamu luapan dari jiwa ini.
Kamu gambaran dari nuansa hidupku. Jangan pernah merasa sendiri, jangan pernah
merasa takut, jangan pernah merasa kesepian. Tangan, hati, pikiran dan
huruf-huruf ini akan selalu menemaniku. Keistimewaanmu bukan lagi kamu. Keistimewaanmu adalah kita. Kamu istimewa
dari roh. keistimewaanku berada pada rohmu itu sendiri, roh yang aku tuliskan
dalam setiap kata-kata.
Bergantung pada bagaimana dia memahamimu, bergantung pada dia
yang menyatukanmu. Bergantung pada dia yang menjadikan dirimu sebagai dirinya
dalam ribuan huruf itu.
Siapakah kamu? Kamu adalah apa yang kini
aku tuliskan. Kamu adalah bagian dari diriku ini, kamu luapan dari jiwa ini.
Kamu gambaran dari nuansa hidupku. Jangan pernah merasa sendiri, jangan pernah
merasa takut, jangan pernah merasa kesepian. Tangan, hati, pikiran dan
huruf-huruf ini akan selalu menemaniku. Keistimewaanmu bukan lagi kamu. Keistimewaanmu adalah kita. Kamu istimewa
dari roh. keistimewaanku berada pada rohmu itu sendiri, roh yang aku tuliskan
dalam setiap kata-kata.
