Minggu, 24 Januari 2016

cerita diri


Keistimewaanmu Kata-kata
Kamu begitu istimewa, keistimewanmu adalah kamu, tapi siapakah kamu? Aku tak tahu siapa kamu. Aku berdiam diri mengandaikan segenap angan-angan dalam hidup yang tak mungkin namun bisa menjadi mungkin. Tahukah kamu, berbagai huruf dirangkai menjadi kata-kata. Kata yang selalu mengiringi jalan hidupku. Lewat kata-kata aku ungkapkan rasa dalam diri ini. Lewat kata-kata aku ukirkan kalimat indah yang saling berkaitan. Lewat kata-kata aku ungkapkan yang tak mampu diungkapkan oleh bibir kepadamu atau mereka. Harmoni nada, seharmoni rangkaian kata-kata. Semua huruf, semua kata, semua kalimat memiliki roh dan makna sendiri-sendiri. 
Menulis dalam hidupku berarti mewakili jiwa dalam raga yang tak ada istimewanya. Ketika aku tak mampu lagi menahan kepahitan hidup, kepadamulah aku berlari, kepadamulah aku ungkapkan, kepadamulah aku curahkan, dan kepadamulah aku percaya. Percaya bahwa kamu akan menyimpannya, kamu akan menjaganya dan mendengarkan aku tanpa coba untuk berpaling. Itulah kamu, kamu yang tak berwujud seperti boneka, kalung atau apalah itu yang dimiliki hampir semua orang. Kamu yang tak tersentuh namun mampu menyentu., Ketika harmoni kata-kata ini dibaca akan membuat orang tertawa, membuat orang heran, marah, bingung bahkan menangis. Puisi, lirik lagu, drama, maupun cerita akan menarik jika roh dari kata-kata yang di ukir mampu menjelma menjadi sebuah karya, karya yang diungkapkan oleh orang yang menyampaikan sisi lain darinya. Seperti aku, saat ini.
Sadarkah mereka? Tahukah mereka? Riwayat hidupnya terkenang melalui tulisan-tulisan tangannya yang tak sengaja. Melalui ungkapan luapan emosi, mereka menulismu di media sosial, mereka tuliskan kata-kata indah menunjukkan kasih sayang. Melalui kata-kata mereka mengungkapkan depresi diri. Kamu tahu harus bagaimana, kamu mampu menjadi wadah untuk aku menggambarkan suasana diriku. Kamu mampu memberiku tempat untuk menggoreskan jeritan dalam hati ini. Hati yang tak mampu di dengar oleh orang lain. Hati ini berbicara melalui kamu yang diketikkan oleh tangan yang bertemu dengan beragam huruf.
Kini aku mulai paham akan keistimewaanmu. Aku mulai menyadari setiap rangkaian kata-kata dibangun oleh roh dari orang yang menuliskan dirimu. Keistimewaanmu bergantung pada siapa yang menulismu, bergantung pada bagaimana dia memahamimu, bergantung pada dia yang menyatukanmu. Bergantung pada dia yang menjadikan dirimu sebagai dirinya dalam ribuan huruf itu.
Siapakah kamu? Kamu adalah apa yang kini aku tuliskan. Kamu adalah bagian dari diriku ini, kamu luapan dari jiwa ini. Kamu gambaran dari nuansa hidupku. Jangan pernah merasa sendiri, jangan pernah merasa takut, jangan pernah merasa kesepian. Tangan, hati, pikiran dan huruf-huruf ini akan selalu menemaniku. Keistimewaanmu bukan lagi kamu.  Keistimewaanmu adalah kita. Kamu istimewa dari roh. keistimewaanku berada pada rohmu itu sendiri, roh yang aku tuliskan dalam setiap kata-kata.
 Bergantung pada bagaimana dia memahamimu, bergantung pada dia yang menyatukanmu. Bergantung pada dia yang menjadikan dirimu sebagai dirinya dalam ribuan huruf itu.
Siapakah kamu? Kamu adalah apa yang kini aku tuliskan. Kamu adalah bagian dari diriku ini, kamu luapan dari jiwa ini. Kamu gambaran dari nuansa hidupku. Jangan pernah merasa sendiri, jangan pernah merasa takut, jangan pernah merasa kesepian. Tangan, hati, pikiran dan huruf-huruf ini akan selalu menemaniku. Keistimewaanmu bukan lagi kamu.  Keistimewaanmu adalah kita. Kamu istimewa dari roh. keistimewaanku berada pada rohmu itu sendiri, roh yang aku tuliskan dalam setiap kata-kata.